Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai melakukan berbagai persiapan menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga keselamatan di tengah potensi lonjakan kunjungan dan risiko bencana musiman, khususnya pada periode akhir tahun yang bertepatan dengan musim hujan.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan nasional, Daerah Istimewa Yogyakarta hampir selalu menjadi magnet wisatawan saat libur panjang. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya mengelola arus kunjungan secara lebih merata agar tidak terjadi penumpukan di lokasi-lokasi favorit yang berpotensi menurunkan kualitas pengalaman wisata.
Antisipasi Sejak Dini Hadapi Lonjakan Wisatawan
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menegaskan bahwa persiapan menyambut Nataru dilakukan jauh hari. Tujuannya adalah memastikan wisatawan yang datang ke Yogyakarta tetap mendapatkan pelayanan yang baik serta pengalaman berwisata yang menyenangkan.
Menurutnya, salah satu tantangan utama saat libur panjang adalah konsentrasi wisatawan di destinasi tertentu. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu kemacetan, antrean panjang, hingga ketidaknyamanan di lokasi wisata.
“Kita harus betul-betul memastikan bahwa semua destinasi prioritas yang saat ini menjadi favorit sudah siap menerima wisatawan dengan pelayanan yang baik. Artinya, wisatawan tidak hanya terpusat pada satu tempat saja,” ujarnya.
Dorong Distribusi Wisatawan ke Destinasi Alternatif
Selama ini, kecenderungan wisatawan masih menumpuk di wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Pariwisata DIY mendorong promosi destinasi alternatif agar kunjungan lebih merata ke wilayah lain.
Wilayah seperti Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul dinilai memiliki potensi wisata yang tidak kalah menarik. Mulai dari wisata alam, pantai, desa wisata, hingga event berbasis budaya dan komunitas, semuanya disiapkan sebagai pilihan alternatif bagi wisatawan.
Dengan strategi ini, diharapkan wisatawan memiliki lebih banyak opsi tujuan, sehingga kepadatan di pusat kota dapat dikurangi. Selain meningkatkan kenyamanan wisatawan, pemerataan kunjungan juga berdampak positif bagi perekonomian masyarakat di wilayah pinggiran.
Event Wisata Jadi Daya Tarik Tambahan
Selain mempromosikan destinasi alternatif, Dinas Pariwisata DIY juga menyiapkan berbagai event pendukung selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Event-event ini diharapkan dapat menjadi magnet baru yang mengalihkan perhatian wisatawan dari destinasi utama yang sudah padat.
Event budaya, pertunjukan seni, hingga kegiatan berbasis komunitas lokal akan diperkuat promosinya agar tersampaikan ke calon wisatawan sejak awal. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi penumpukan, tetapi juga memperkaya pengalaman wisata dengan sentuhan lokal yang autentik.
Fokus pada Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana
Aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam persiapan Nataru. Dinas Pariwisata DIY memastikan setiap pengelola destinasi wisata, khususnya yang berisiko tinggi, kembali meninjau dan memperkuat Standar Operasional Prosedur (SOP) mitigasi bencana.
“Kami memastikan pengelola destinasi berisiko melihat kembali SOP. Kami tentu tidak mengharapkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, namun jika itu terjadi, SOP sudah bisa dijalankan dengan cepat,” jelas Imam.
Destinasi wisata di DIY memiliki karakter risiko yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap lokasi diminta menyesuaikan SOP dengan potensi bahaya masing-masing, baik itu bencana alam, cuaca ekstrem, maupun kondisi lingkungan lainnya.
Pantai Jadi Sorotan di Musim Hujan
Pantai selatan Yogyakarta menjadi salah satu destinasi yang mendapat perhatian khusus. Pada musim hujan, risiko gelombang tinggi dan arus laut yang kuat meningkat, sehingga potensi bahaya bagi wisatawan juga lebih besar.
Dinas Pariwisata DIY meminta pengelola pantai untuk aktif memberikan informasi kepada wisatawan sejak awal kedatangan. Informasi tersebut meliputi area yang aman, aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta langkah-langkah yang harus diikuti jika terjadi kondisi darurat.
“Destinasi harus menginformasikan di awal kepada wisatawan apa saja yang harus mereka ikuti, apa yang tidak boleh dilakukan, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya.
Koordinasi dengan Pengelola dan Pihak Terkait
Untuk memastikan kesiapan di lapangan, Dinas Pariwisata DIY juga melakukan koordinasi intensif dengan pengelola destinasi, pemerintah kabupaten/kota, serta instansi terkait lainnya. Penilaian risiko yang sudah ada dijadikan acuan untuk memastikan setiap pihak memahami peran dan tanggung jawabnya.
Koordinasi ini mencakup kesiapan sarana prasarana, jalur evakuasi, rambu peringatan, hingga kesiapan sumber daya manusia di destinasi wisata. Dengan demikian, jika terjadi situasi darurat, respons dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Menjaga Reputasi Yogyakarta sebagai Destinasi Aman dan Nyaman
Persiapan menyambut libur Natal dan Tahun Baru bukan hanya soal mengantisipasi lonjakan wisatawan, tetapi juga menjaga reputasi Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman, dan ramah.
Pengalaman wisata yang positif akan berdampak jangka panjang bagi sektor pariwisata DIY. Wisatawan yang merasa aman dan puas cenderung kembali berkunjung serta merekomendasikan Yogyakarta kepada orang lain.
Penutup
Dengan persiapan yang matang, promosi destinasi alternatif, serta penguatan SOP mitigasi bencana, Dinas Pariwisata DIY optimistis dapat menyambut libur Natal dan Tahun Baru dengan lebih tertata. Distribusi wisatawan yang merata dan peningkatan kesadaran keselamatan menjadi kunci utama agar aktivitas pariwisata tetap berjalan lancar di tengah tingginya mobilitas akhir tahun.
Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan wisatawan, tetapi juga memperkuat pariwisata DIY sebagai sektor yang berkelanjutan, adaptif, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.
Baca Juga : 7 Wisata Populer di Bantul untuk Libur Natal & Tahun Baru 2025
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarjawa
