liburanyuk.org Liburan sering dipandang sebagai jeda yang menyenangkan dari rutinitas harian. Banyak orang menaruh harapan besar pada masa ini: beristirahat, berkumpul dengan orang terdekat, atau sekadar menjauh sejenak dari tekanan pekerjaan. Namun, ketika liburan berakhir dan aktivitas kembali berjalan normal, tidak sedikit orang justru merasakan perasaan kosong, murung, atau kehilangan semangat.
Alih-alih merasa segar dan siap menghadapi hari-hari baru, sebagian orang merasa ada ruang hampa yang sulit dijelaskan. Transisi dari suasana santai menuju rutinitas yang padat kerap memicu ketidaknyamanan emosional. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah holiday blues.
Apa Itu Holiday Blues?
Holiday blues merupakan kondisi emosional yang muncul setelah masa liburan atau perayaan berakhir. Perasaan yang muncul bisa berupa sedih, hampa, cemas ringan, atau menurunnya energi dan motivasi. Meskipun terasa mengganggu, holiday blues bukanlah gangguan mental serius, melainkan respons emosional yang wajar terhadap perubahan suasana dan ritme hidup.
Perubahan mendadak dari waktu luang ke tanggung jawab sering kali membuat tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Saat adaptasi ini tidak berjalan mulus, muncul perasaan tidak nyaman yang kerap diabaikan atau dianggap sepele.
Mengapa Holiday Blues Bisa Terjadi?
Ada beberapa faktor yang dapat memicu holiday blues. Salah satunya adalah kontras suasana yang terlalu tajam. Selama liburan, banyak orang menikmati kebebasan waktu, aktivitas menyenangkan, dan interaksi sosial yang lebih hangat. Ketika semua itu berhenti secara tiba-tiba, rutinitas terasa lebih berat dari sebelumnya.
Selain itu, ekspektasi berlebihan terhadap liburan juga dapat berperan. Tidak semua liburan berjalan sempurna, namun harapan yang terlalu tinggi bisa membuat realitas terasa mengecewakan. Ketika liburan berakhir, rasa kecewa tersebut bisa berubah menjadi perasaan hampa.
Faktor lain yang sering muncul adalah kelelahan emosional. Liburan yang padat dengan agenda perjalanan atau pertemuan sosial dapat menguras energi. Saat kembali ke rutinitas, tubuh belum sepenuhnya pulih, sehingga perasaan lelah dan murung muncul bersamaan.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Holiday blues dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa orang merasakan suasana hati yang menurun, mudah lelah, atau sulit berkonsentrasi. Ada pula yang merasa kurang bersemangat memulai pekerjaan, enggan berinteraksi, atau merasa hidup terasa datar.
Pada sebagian orang, gejala ini disertai gangguan tidur ringan atau perubahan nafsu makan. Meski biasanya bersifat sementara, gejala-gejala tersebut tetap perlu diperhatikan agar tidak berlarut-larut dan memengaruhi kualitas hidup.
Dampak terhadap Produktivitas dan Emosi
Jika tidak disadari, holiday blues dapat berdampak pada produktivitas. Pekerjaan terasa lebih berat, fokus menurun, dan motivasi sulit dikumpulkan. Dalam jangka pendek, kondisi ini bisa memengaruhi kinerja dan hubungan sosial.
Secara emosional, perasaan kosong yang tidak dipahami dapat memicu rasa bersalah. Banyak orang merasa “seharusnya bahagia” setelah liburan, sehingga ketika perasaan sebaliknya muncul, mereka menyalahkan diri sendiri. Padahal, respons ini sangat manusiawi.
Cara Menghadapi Holiday Blues
Langkah pertama untuk menghadapi holiday blues adalah menerima perasaan tersebut tanpa menghakimi diri sendiri. Menyadari bahwa perasaan murung usai liburan adalah hal yang wajar dapat mengurangi tekanan batin.
Memberi waktu bagi diri sendiri untuk beradaptasi juga penting. Tidak perlu memaksakan produktivitas penuh di hari-hari awal kembali bekerja. Menyusun kembali rutinitas secara bertahap dapat membantu transisi berjalan lebih lembut.
Menjaga keseimbangan aktivitas juga menjadi kunci. Sisakan waktu untuk hal-hal kecil yang menyenangkan, seperti berjalan santai, mendengarkan musik, atau menikmati hobi ringan. Aktivitas ini membantu menjaga suasana hati tetap stabil.
Menata Ekspektasi dengan Lebih Realistis
Mengelola ekspektasi terhadap liburan dan kehidupan setelahnya dapat mengurangi risiko holiday blues. Liburan tidak harus menjadi puncak kebahagiaan, dan rutinitas tidak selalu identik dengan kebosanan. Memandang rutinitas sebagai bagian dari kehidupan yang memberi struktur dapat membantu menciptakan perspektif yang lebih seimbang.
Menyimpan momen liburan sebagai kenangan tanpa membandingkannya secara berlebihan dengan hari-hari biasa juga dapat membantu. Setiap fase memiliki nilai dan tantangannya masing-masing.
Kapan Perlu Mencari Bantuan?
Holiday blues umumnya bersifat sementara dan akan mereda seiring waktu. Namun, jika perasaan murung berlangsung lama, semakin intens, atau mulai mengganggu fungsi sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan tenaga kesehatan mental dapat membantu memahami kondisi secara lebih mendalam.
Mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Menjadikan Transisi Lebih Sehat
Transisi dari liburan ke rutinitas adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan kesabaran. Dengan memahami holiday blues, seseorang dapat lebih peka terhadap kondisi emosionalnya sendiri. Kesadaran ini membantu menjalani masa setelah liburan dengan lebih sehat, tanpa tekanan untuk selalu merasa baik-baik saja.
Penutup
Merasa kosong atau murung setelah liburan bukanlah hal yang aneh. Holiday blues merupakan respons emosional yang wajar terhadap perubahan ritme hidup. Dengan mengenali gejala, memahami penyebab, dan menerapkan langkah-langkah sederhana, masa transisi dapat dilalui dengan lebih ringan.
Liburan memang berakhir, tetapi kesejahteraan emosional tetap bisa dijaga. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi adalah kunci agar semangat dan keseimbangan kembali tumbuh secara alami.

Cek Juga Artikel Dari Platform infowarkop.web.id